• 20 Langkah Kebebasan Sempurna

    Date: 2011.01.10 | Category: Uncategorized | Tags:

    Jatuh. Mengurung diri di ruangan kecil itu. Menatap kesekeliling ruangan yang begitu hancunya. Tak ada keinginan untuk mengembalikan benda ke posisi aslinya. Pikiran tak henti-hentinya berupaya untuk menyelesaikan begitu banyak masalah yang tak kunjung usai. Bukan lagi memikirkan bagaimana aku harus menyelesaikannya. Tapi kapan masalah itu akan selesai. Perjuangan sendiri itu sangat melelahkan. Segala upaya telah aku coba, segala solusi aku rancang. Hanya indikasi depresi yang kudapat. Tidak tahu harus bagaimana lagi.

    Dagu yang menempel ke lutut, serta kedua tangan memeluk kaki. Sambil berharap Malaikat Izroil tak sengaja melewati pintu rumah kecil ini. Aku tidak pernah putus asa sampai sedalam ini. Aku tidak pernah merasakan kesepian sepanjang hidupku. Aku tidak pernah merasakan ditinggalkan oleh kebahagiaan selama ini. Hingga akhirnya, aku sendiri menatap langit-langit ruangan tak ada suara yang bisa aku bentak. Sudah bosan mencari pelampiasan emosi yang tak terkendali. Sudah capek mendengar ucapan ‘sabar’ dari orang-orang yang tidak ikut merasakan itu. Tidak ada solusi yang pasti yang bisa aku andalkan untuk sekedar menenangkan hatiku barang sedetik.

    Aku tahu, aku bukan orang yang penting lagi dihadapan mereka. Aku tahu mereka akan ada disampingku ketika aku masih menjadi superstar. Tapi kini, katika aku membutuhkan tawaran tangan untuk mengangkatku kembali keluar dari lumpur hidup sumber putus asa, mereka menghilang. Entah apa lagi yang harus aku lakukan untuk mendapatkan semangat hidup lagi. Rasanya tidak akan cukup untuk sekedar menerima ucapan ‘kamu bisa’ dari teman-teman melalui segelintis potongan sms tanpa mendatangi aku disini.

    Mereka bisa saja mengucapkan itu berulang kali. Karena aku juga bisa mengucapkan kata-kata itu ketika mereka mengalami nasip yang sama dengan kondisiku saat ini. Tapi bukan itu yang aku harapkan. Aku butuh suatu dukungan nyata. Aku butuh dorongan fisik. Aku butuh seseorang disampingku untuk menunjukan titik terang untuk melangkah keluar dari sisi gelap ini.

    Disaat sendiri itu. Satu hal yang aku harapkan adalah seseorang dari luar sana membawakan kenapa aku masih harus hidup, atau setidaknya membawakan sebuah pisau tajam untuk mengakhiri segalanya.

    “Permisi…”

    Suara dari luar ruangan menghentikan pikiran-pikiran yang tak kunjung usai menunggu solusi. Aku berdiri dan berlari keluar ruangan. Melihat seorang pria tua berseragam membawakan bungkusan kecil dan menyerahkannya kepadaku.

    Tidak terlalu memperdulikan orang tua itu, kembali masuk keruangan dan membuka perlahan bungkusan berwarna abu-abu kecoklatan. Didalamnya sebuah kaset pita dengan sepucuk surat dari Akbar.

    “20 Langkah Kebebasan Sempura. Sahabatmu Akbar”

    Isi surat yang sangat pendek, dan tidak terlalu berbelik-belik. Entah apa maksut dari 20 langkah kebebasan sempurna itu. Mungkin kah ini dapat mengeluarkanku dari ranjau kehidupan ini?

    Aku keluar dari ruangan, membawa kaset pita pemberian Akbar, dan sebuah walkman yang aku simpan di tumpukan buku-buku bekas karena sudah lama tak dipakai lagi, serta sebuah tas ransel yang memang selalu nempel di punggung setiap kali aku naik motor.

    Selalu seperti ini, aku tidak pernah bisa membedakan antara lari 40 Km/jam dengan 110 Km/jam ketika aku tidak bisa menguasai emosi ku lagi. Motor melaju sangat kencang dengan walkman yang menempel di balik helm hitam sedikit goresan bekas jatuh beberapa waktu lalu.

    Motor yang aku naiki seakan berjalan sendiri. Melewati mobil-mobil, juga motor didepanku. Aku konsentrasi dengan suara yang keluar dari walkman. Suara Akbar terdengar jelas sesekali mengucap “test… test… test…”, dan terkadang terpotong oleh suara musik Seismic. Sepertinya dia membuat rekaman ini dari kaset musik pribadinya.

    Motor masih berlari kencang. Aku tidak tahu pasti posisiku dimana saat itu. Satu-satu nya yang aku tahu adalah aku berada pada suatu daerah dengan jalan yang begitu lurusnya dan sedikit kenderaan yang ada disana. Aku mempercepat motor dan konsentrasi masih pada rekaman itu.

    “Assalamualaikum, syuaa…”

    Aku semakin mendengarkan…

    “Ane tahu, antum sedang dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Tapi ane minta maaf karena ane tidak bisa datang sendiri ke kostan antum. Kesibukan disini membuat ane tidak bisa meninggalkan tanggun jawab begitu saja”

    Hmm,,, yah, sama seperti yang lainnya” ucapku dalam hati.

    “Tapi setidaknya, rekaman ini. Kaset Nasyid yang dulu pernah antum belikan pas antum kalah nilai di kenaikan kelas kita sewaktu masih SMA. Ane kembalikan dengan sedikit rekaman ane.”

    “Oh, yah,,, saya ingat itu. Saya selalu kalah”

    “Ane punya 20 langkah yang mungkin antum jalankan agar antum merasakan kebebasan yang sempuran. Kebebasan dari segala masalah yang antum alami saat ini. Segala keterpurukan saat ini. Dan ane yakin antum pasti bisa menjalankan semuanya dengan mudah. Ane dapat ini dari musrib ane.”

    Hmm yah, dia juga dulu musrip saya. Tapi itu dulu

    “Ane tahu antum pasti bisa menjalankan ke 20 langkah ini. Walaupun ane akui kalau ane sampai saat ini belum sanggup menjalankannya”.

    Oke,,, just show me” kejarku dalam hati karena ingin langsung kepokok bahasan.

    Pandangan lurus kedepan, tidak ada mobil, atau motor atau apapun yang perlu aku hindari. Semuanya seakan kompak meninggalkanku sendiri, tidak di rumah, juga ternyata di jalan raya. Mereka semuanya menghilang begitu saja. Kecepatan motor semakin kencang. Tidak ada rasa takut dihatikua.

    “Pertama, awali segalanya dengan niat tanpa jasa”.

    Kkhkhkhkhh…..

    Aku menghentikan motor. Menekan rem belakang sekencang mungkin sehingga mengeluarkan suara goresan ban dengan aspal yang begitu kencang. Goresan warna hitam tertinggal di aspal cukup panjang. Aku tahu ini cukup berbahaya, walaupun aku cukup mahir mengendalikan goyangan motor bagian belakang kekita menekan rem terlalu kencang, tapi itu kalau dalam keadaan normal. Bukan seperti saat ini.

    Aku terdiam menunggu penjelasan tentang langkah pertama itu. Aku tidak terlalu mengerti apa maksunya. Awali segalanya dengan niat tanpa jasa. Terngiang di pikiranku. Belum ada lanjutan ucapan Akbar. Walkman masih berputar, tapi tidak ada suara yang keluar dari dalamnya. Hening.

    Aku pernah mendengar tentang ‘awali segalanya dengan niat karena Allah’ tapi kenapa yang diucapkan Akbar bukan seperti itu? Apa maksut dari kata-kata itu. Kenapa dia belum menjelaskan apa maksutnya? Kenapa belum ada keluar suara dari walkman ini?

    Aku berjalan menjauh dari tempat motor aku hentikan. Tidak terlalu perduli jika ada yang mencuri motor disana.  Masih fokus ke rekaman itu.

    “Kedua, perhatikan orang yang ada disekitarmu, hargai keberadaan mereka.  Kamu tidak sedang sendiri saat ini”

    Aku segera melihat sekeliling. Tidak ada orang.

    Hah,,, kamu salah Bar

    Tapi kenapa langsung yang kedua. Bahkan langkah pertama saja aku belum mengerti dan belum menjalankannya. Tidak terlalu lama.

    “Ketiga, berbuat baiklah hingga kamu puas”

    Oh… ayo dong, kenapa langsung ke langkah ketiga. Eh tunggu, bukankan itu salah. Bukankan seharusnya apa yang dia bilang adalah ‘jangan pernah puas berbuat baik’? apa maksut nya? Semakin banyak pertanyaan yang timbul dibenakku, yang semakin tak terjawab olehku sendiri.

    Aku menatap jauh kedepan, berjalan seakan tanpa arah. Semain menjauh dari posisi motor aku hentikan. Pikiranku masih berbalik dari langkah satu hingga langkah ketiga.

    Tiba-tiba, terpikir olehku sesuatu tentang langkah ketiga. Ini seakan-akan suatu tebakan yang bisa aku pecahkan, timbul sedikit rasa bangga terhadap diri sendiri. Seperti bangganya seorang hacker yang sanggup menembus firewall targetnya. Aku berlari menuju motor diparkir. Mematikan walkman. Dan ternyata aku berjalan sudah cukup jauh.

    Begitu tiba di motorku, aku berhenti sejenak menghela napas panjang. Capek.

    Menaiki motor dan ngebut menuju sebuah minimarket yang memang cukup jauh dari tempat awalku berhenti tadi.

    Segera masuk kedalam dan membeli beberapa roti, makanan-makan kecil lainnya, dan minuman-minuman. Cukup banyak. Aku menghabiskan Rp. 300.000 hanya untuk membeli makanan dan minuman disana.

    Memasukan semua makanan itu kedalam tas dan keluar dari sana. Aku pergi menuju suatu tempat didaerah pinggir kota. Berhenti tepat disebuah taman kecil, menatap ketaman itu.

    Aku hanya melihat beberapa anak kecil yang bermain dengan teman-teman lainnya. Seorang ibu-ibu yang menggendong anak sambil menghampiri satu mobil ke mobil lainnya yang berhenti karena lampu merah. Aku ragu. Ingin melanjutkannya.

    Aku mulai berjalan perlahan kearah mereka. Tidak ada yang terlalu perduli, mereka masih sibuk kejar-kejaran dengan teman mereka yang lain. Sambil ditangannya tetap memegang gelas aqua, aku yakin mereka menggunakannya untuk meminta belas kasih dari pemilik mobil-mobil seharga ratusan juta itu. Walaupun kadang mereka tidak mendapat apa-apa darinya, tapi tidak ada dendam yang tersimpan dihati mereka.

    Aku duduk melihat mereka. Mengeluarkan sebungkus makanan kecil dan mulai memakan sendiri. Mengamati apa yang mereka lakukan disana. Tertawa bersama, saling kejar-kejaran.

    Tiba-tiba salah seorang dari mereka mungkin tidak sengaja mendorong teman yang lainnya hingga terjatuh. Menangis dengan cukup kuat dan berhenti bermain sebentar, seorang yang lebih tua mengelus kaki anak yang jatuh, entah itu kakaknya atau mungkin teman yang lain. Sebelum akhirnya mereka bermain bersama lagi. Sesimple itulah mereka saling memaafkan. Menangis. Semudah itulah dia keluar dari rasa sakit karena terjatuh. Berlari. Begitulah mereka menunjukan kebahagiaan. Tetap memegang erat gelas aqua. Sehebat itulah mereka memegang tanggungjawab dan elusan dari kakaknya. Semurah itulah harga obat untuk menyembuhkan sakit.

    Hah. Aku tahu maksutmu Bar, dan aku menikmatinya”.

    Aku segera menghampiri mereka. Membagikan makan-makanan yang ada di tas. Terlihat kebahagiaan lebih yang dipancarkan dimuka mereka.

    “Bang…bang…bang… ini kan yang itu ya”

    Seorang anak perempuan kecil menunjukan bungkus makanannya kepada kakaknya sambil menujuk sebuah ikan makanan cukup besar diseberang jalan. Aku tidak terlalu perduli awalnya bahwa jauh disebrang sana ada iklan makanan yang juga aku beli. Mereka bahagia. Aku merasakan kebahagiaan mereka.

    Mengeluarkan semua sisa uang yang dikantong dan memasukan ke gelas aku mereka. Tidak terlalu perduli keuanganku sudah cukup menipis saat ini.

    “Makasih om…”

    Serentak mereka mengucap, aku berlalu meninggalkan mereka sambil berlari-lari kerah ibunya.

    Aku memutar motor dan siap untuk berangkat. Terhilat betul mereka dengan bangganya menunjukan lembaran uang yang aku tinggalkan untuk mereka kepada ibunya. Si ibu mengusap kepala Anak-anaknya. Aku tersenyum dalam hati.

    ==============in another dimension================

    Terbangung.

    “Hehe… mimpi tuh bisa apa aja sih yah. Tapi sayang, gue keburu bangun sebelum gue dapet ke 17 terakhir dari langkah itu”.

    Dan sampai saat ini. 2 tahun lebih mimpi itu tak lagi datang untuk menjawab 17 langkah terakhir. Kapan lagi lanjutannya Bar???

    Mungkin sebelum gue bisa memecahkan langkah satu dan dua gue belum bisa lanjut ke langkah empat kali ya. :D . Still waiting.